Akibat Gempa Salah Seseorang Santri Di Nusa Tenggara Barat (NTB) Meninggal Di Karenakan Tertimpa Reruntuhan Bangunan
![]() |
| TEXASPPOKERqq |
Salah seorang santri Di Pondok Pesantren Riyadussubat meninggal dunia akibat gempa 7,0 skala richter di Nusa Tenggara Barat (NTB), Muhammad Khudori (14) meninggal dunia setelah tertimpa reruntuhan bagunan. Gempa tersebut terjaadi hari Minggu (5/08/2018), pukul 18.46 WITA.
"Anak saya terluka parah di bagian kepala," ujar Khairul, ayah dari korban meninggal dunia yang ditemui di sekiar Rumah Sakit Angkatan Darat (RSAD) Mataram. Khairul mengatakan anaknya yang baru beberapa waktu duduk di kelas 1 MTs tertimpa reruntuhan bangunan pada saat sedang mengaji.
Khairul sendiri mengangkut anaknya menggunakan mobil warga ke RSAD Mataram dari pondok pesantren yang jaraknya sekitar 50 meter dari rumahnya. Jasad Khudori telah berada di dalam mobil ambulans yang terparkir di jalan raya. Tenaga medis rumah sakit sibuk mengurus pasien yang kondisinya sangat serius.
Para pasien RSAD Mataram bahkan sempat diungsikan ke jalan raya dan lapangan kantor Gubernur NTB yang tidak jauh dari rumah sakit, saat gempa terjadi.
Gempa bumi berkekuatan 7,0 SR mengguncang Pulau Lombok dan Sumbawa, Minggu, pukul 18.46 Wita itu, dengan pusat gempa terletak pada 8,3 Lintang Selatan, 116,48 Bujur Timur Kabupaten Lombok Utara dengan kedalaman 15 kilometer. Dan Total korban meninggal dunia 31 orang.
Gempa menimbulkan kepanikan warga. Di Mataram, warga keluar rumah untuk menyelamatkan diri. Lampu-lampu di jalan dan rumah padam. Keadaan jadi gelap gulita.
Sebagian orang juga memilih menuju dataran tinggi seperti perbukitan untuk mengantisipasi terjadi tsunami pasca gempa. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sempat mengeluarkan peringatan dini potensi tsunami, namun beberapa waktu kemudian, berdasarkan perkembangan terbaru, menyatakan peringatan tsunami itu berakhir.
Kami ada sensor yang dipasang di pantai, baik di Bali, Lombok, dan Sumbawa. Sudah ada kenaikan. Namun itu kan gradual. Dan kini sudah turun kembali," kata Dwikorita dalam jumpa media di Kantor BMKG, Jakarta, Minggu (5/8). "Itu [penurunan permukaan air laut] tanda kalau [tsunami] sudah lewat," ujarnya.



Komentar
Posting Komentar